Kembali ke 3 tahun lalu, aku bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya yang menangis di sebuah halte bis. Menggunakan setelan perlente kemeja dan jas lengkap dengan dasinya, namun lusuh dan kusut seakan-akan beliau baru beres bermain badminton 3 set dengan setelan perlente tersebut. Terlintas seperti melihat bapakku sendiri, lantas Aku menghampirinya dan bertanya kepada beliau hendaknya kenapa menangis. Lalu dia bilang kepadaku bahwa dia kehilangan uang sebesar 3milyar rupiah. Lalu aku bertanya, “kapan dan dimana bapak kehilangan uang tersebut? Sudah lapor polisi? Bagaimana kronologinya?” Tiba-tiba aku menjadi penasaran tentang cerita yang menjadi alasan membuat beliau menangis. Namun, ada jawaban yang membuat Aku kaget dan sekaligus berfikir. Sambil tersedu-sedu beliau menjawab “Tidak tahu, karena uangnya juga tidak punya” Lantas aku menjadi bingung. “Maksud bapak apa?” “Iya saya juga ga tau uang itu hilangnya dimana, punya aja engga uang sebanyak itu” “terus bapak kenapa menangis?” “Saya menangis sekarang agar, kalau nanti sampai benar-benar terjadi kehilangan 3milyar, Saya tidak usah menangis dan bersedih lagi karena sudah pernah” “…” Saya terdiam, bingung, dan berfikir keras, apa sebenarnya yang sedang dilakukan bapak-bapak ini. Saat saya masih berfikir tentang apa maksud dari menangisnya bapak-bapak tersebut, lalu tiba-tiba dia tertawa dan sekejap dia berubah menjadi ceria, dan berkata kepada saya “Jangan sedih jika bertemu dengan kesusahan, jangan bahagia jika bertemu kebahagiaan. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kebahagiaan atau kesedihan tersebut” Nasihat dan ilmu bahkan bisa diambil dari orang gila sekalipun, tergantung bagaimana kita melihat dan mendengarkannya.