1

PERKENALAN

“Aku sedikit lebih dewasa dibandingkan dengan usiaku, dan Dia sedikit kurang dewasa dibandingkan usianya, jadi Kami sama. Dia sangat cerdas, tetapi emosinya masih seperti usiaku. Aku seratus persen yakin dengan hal itu. Dia dan Aku belajar bagaimana bekerja bersama, dan kami menjadi percaya diri. Kami percaya bahwa Kami dapat menyelesaikan masalah teknis dan akhirnya akan bisa memproduksi sesuatu. Hal itulah juga yang membuat Kami menyadari apa yang bisa Kami lakukan dengan keahlian teknikku dan visinya.”

Di sini cerita kami berawal…

“Asik kayanya bisa bulak-balik ke Jakarta tiap minggu”

“Cape anjir, tapi kalo Lu mau juga bisa kok”

“Tapi kan Gua ga punya tujuan, ya ke Jakarta doang sih gampang, tapi di Jakarta mau ngapain?”

“Sip, nanti gua cariin tujuannya!”

Obrolan warung yang terjadi di sebuah mini market ditutup dengan candaan receh seperti biasanya. Aku dan Dia masih menjadi karyawan sebuah perusahaan yang menangani proyek-proyek dengan teknologi mutakhir. Yang berlokasi di dataran perbukitan Bandung Utara.

Hari-hari berlalu seperti biasa, dengan isengan kami yang tidak biasa tentunya. Kami sedang menangani proyek yang sama kebetulan, sebuah aplikasi untuk mesin vending machine yang dilengkapi dengan layar sentuh di bagian depannya sebagai pengganti kaca untuk mendisplay isi dagangannya. Sampai harinya tiba kami harus menkonfigurasi aplikasi dengan vending macine tersebut di venue sebuah acara festival musik jazz yang besar di Jakarta. Satu-dua kendala teknis sudah biasa kami temukan, apalagi dia yang sudah banyak makan asam garam dalam menangani aktivasi digital di berbagai event. Namun semuanya bisa diselesaikan dengan baik, dan aplikasi tersebut bisa berjalan sesuai dengan permintaan selama 3 Hari, selama event tersebut berlangsung.

Selama itu pula, banyak sekali dialog sederhana yang terjadi, tentang problematika kehidupan, pengalaman pekerjaan, pertemanan, hingga percintaan sekalipun. Aku tidak menyangka ketika awal pertemuan di sebuah co-working space, saat kali pertama Aku mendapatkan beberapa pertanyaan untuk masuk kerja. Bertemu dengan Dia, yang bahkan tergambar sebagai programmer yang biasa-biasa saja, tidak. Namun sebelumnya aku melakukan beberapa background check yang hasilnya adalah pemilik perusahaan tempat aku melamar merupakan seorang yang memiliki tingkat kecerdasasan yang tinggi, dan Dia merupakan temannya orang cerdas yang memiliki banyak fans di sosial media. Jadi aku tidak menyimpulkan bahwa Dia sedang melakukan sosialisasi agar dia mendapatkan citra selebritis yang sangat dekat dengan dunia teknologi.

Singkat cerita Dia akhirnya resign dari tempat Kita bekerja, Akupun demikian. Menyusul resign dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Dia kembali menuju kehidupan selebritasnya yang gemerlap, sedangkan Aku menycoba untuk membangun sebuah bengkel mobil di halaman rumah. Setelah aku mengalami beberapa pengalaman yang sampai akhirnya aku memutuskan untuk break dari profesi sebagai programmer. Memperbaiki beberapa mobil yang rusak, merekrut beberapa mekanik dan tukang cat, merupakan hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ternyata semuanya tidak sama seperti yang ada di bayanganku sebelumnya, beban yang aku tanggung lebih berat. Dari menangani komplen yang berasal dari tetangga karena suara berisik di halamanku, turn over karyawan yang tinggi karena kebanyakan mekanik yang Aku rekrut merupakan mekanik senior yang mempunyai pelanggannya masing-masing. Hingga tak lama akhirnya Sukamanah motor aku putuskan untuk dimati surikan.

Aku hidup menganggur, sisa tabungan ku untuk hidup dengan mimpi mempunyai sebuah bengkel mobil habis. Makan susah. Aku jual murah perkakas bengkel ku untuk mengisi perut, hingga tidak ada lagi perkakas bengkel yang tersisa. Bayar mundur di beberapa warung nasi akhirnya terpaksa aku lakukan. Lalu Akupun Meng-apply beberapa pekerjaan di situs-situs lowongan pekerjaan, hingga akhirnya pada suatu sore aku mendapati Dia menelponku dan menawariku untuk mengerjakan sebuah proyek untuk brand restoran franchise pizza terbesar di Indonesia. Dengan syarat aku harus mengerjakan proyek tersebut di kantor Agency Multinasional yang menangani brand tersebut. Tanpa pikir panjang, Aku mengiyakan tawaran tersebut.

“Akhirnya doa lu terkabul”

“Doa apa?”

“Dulu, lu pernah bilang kalo lu pengen ke Jakarta dengan tujuan, nah inilah skrg kejadian”

“Anjir, bener juga. Akhirnya kejadian”

Sempat terbesit bahwa Dia termasuk orang-orang yang mempunyai kepekaan untuk mewujudkan cita-cita orang lain, entah ini sebuah kebetulan atau tidak, namun setelah beberapa peristiwa sepertinya ini bukan sebuah kebetulan.