2

JAKARTA

“Kami banyak melakukan diskusi membahas berbagai hal, dari perihal roda becak, konspirasi pemerintahaan, hingga isu konflik sosial yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Kami memiliki banyak sekali perbedaan persepsi, namun tak sedikit pula kesepakatan yang terjadi dalam menilai sebuah hal dan peristiwa. Sebagaimana kontrol laju sebuah kendaraan adalah tuas gas dan tuas rem, Kami akhirnya sadar bahwa perbedaan diantara Kami merupakan sebuah kombinasi yang pas untuk menggerakan sebuah kendaraan.”

Setelah sekian lama tak berjumpa, akhirnya kami berjumpa untuk membahas pekerjaan proyek yang sebelumnya telah kami bahas di telepon.

“Kantornya di Jakarta Selatan kok, Jl. Guntur di belakang gedung KPK”

“Gw ga tau Jakarta, jadi kalo lu mau jelasin gimana juga gua ga bakal ngerti”

“Yaudah yang penting lu punya aplikasi ojek online, semua tempat bisa lu datengin di Jakarta”

“Terus ntar gw nginep dimana?”

“Lu ngekos aja daerah sana, sekalian lu nyari kos-kosan untuk sementara waktu lu bisa nginep di kantor gua aja. Ga terlalu jauh kok”

Hari pertama Di Jakarta

Naik travel pukul empat pagi, kami menuju Grand Indonesia, tempat dimana kami sudah sepakat janjian dengan PM yang akan mengantarku ke kantor Agency tempat dimana aku akan bekerja selama satu sampai dua bulan kedepan.

“Kenalkan mas, ini programmer yang akan mengerjakan webnya”

“Halo, Saya Ricky, yang akan mengawal semua proyek ini”

“Halo, Mas Ricky ntar ngantor juga disana?”

“Oh engga, mungkin saya akan datang seminggu sekali ke sana untuk ngontrol, sisanya nanti Kamu akan berkomunikasi dengan Mr. Robin CTO nya langsung”

“Kalo gitu Saya langsung ya Mas Ricky, soalnya Saya ada miting jam sembilan, Bro ntar WA aja ya kalo udah beres”

“Siap! Nanti gua WA”

Akhirnya kami berpisah, Dia berangkat miting dengan kliennya, dan aku bersama Mas Ricky berangkat menuju kantor Agency tersebut. Diperjalanan dia banyak menanyakan hal-hal yang berbau teknis, sepertinya dia ragu pada kemampuanku, namun tak apa, Aku lebih memilih dipandang rendah di awal, ketimbang harus memikul beban pamor yang akhirnya hanya akan menimbulkan kata overrated. Tiba di kantornya, Kami harus menunggu karena ternyata Mr. Robin, masih diperjalanan menggunakan sepeda balapnya. Sambil menunggu, Mas Ricky, banyak memberikan brief tentang apa yang boleh dan tidak boleh aku ucapkan tentang tempat ku bekerja sekarang, tentang identitas kantorku yang ternyata harus mengaku dari perusaannya, dan juga tempat makan yang enak dan murah didaerah kantor tersebut. Sampai akhirnya Mr. Robin datang, Kami langsung ditunjukan meja tempatku bekerja, lalu briefing tentang apa yang harus aku lakukan di hari pertamaku.

Aku baru tahu, ternyata Mr. Robin ini sangat baik dan mempunyai apresiasi yang sangat tinggi terhadap pekerjaan karyawannya, yang mungkin aku baru temukan selama menjadi programmer. Sepertinya sangat berbanding terbalik dengan para atasan yang merupakan orang Indonesia. Bahasa bukan menjadi masalah yang besar, karena bahasa inggrisku yang berantakan, bisa di atasi oleh Mr. Robin yang bisa berbahasa Indonesia. Namun Aku mengutarakan bahwa, Aku ingin sekaligus memperlancar bahasa Inggrisku, akhirnya kami sepakat, kami melakukan percakapan verbal maupun non-verbal dengan bahasa inggris yang sama-sama “dimengerti”. Sorenya, pekerjaan hari pertamaku, dinilai bagus oleh Mr. Robin, aku cukup bangga dengan itu. Ya mungkin karena yang aku kerjakan seharian tadi merupakan hal yang mendasar. Akhirnya aku menghubungi Dia.

“Posi2”

“MT Haryono”

“Oke OTW”

Akhirnya aku order ojek online untuk langsung mengahmpiri Dia, di kantornya di M.T. Haryono. Sampai di gedung perkantoran itu, Aku langsung disuruh naik ke lantai 14, karena Dia sedang ada rapat penting dengan direksi perusahaan. Setelah itu Kami langsung pergi ke Kantornya yang satunya lagi, untuk akhirnya menginap. Sampai di kantornya yang satunya, Kami mendapati Agus ulang tahun. Ada sebuah keriaan yang akan dilangsungkan malam itu. Berawal dari tempat ngebir di komplek SCBD, berlanjut ke sebuah klub yang aku tidak pernah menyangka keberadaannya, hingga ditutup dengan makan bubur Kwang Tung di Pecenongan. Pertama dalam hidup ini aku disapa oleh kehidupan gemerlap Ibu Kota yang katanya kejam. Tiba-tiba aku rindu suasana, aroma pohon pinus, dan kabut Bandung Utara yang hening, dingin, dan menenangkan.

Ah Jakarta, kalo bukan karena masalah mengisi perut, aku enggan bertemu denganmu.