Entah sudah yang keberapa puluh kali, kejadian ini terulang. Yah entah lah, aku pasrahkan saja padamu wahai dewi embunku, kau pun tahu, tak akan ada yang akan bisa menggantikan posisi mu dalam benak ini. Seakan sudah menjadi sebuah pattern yang khas antara aku sang kemarau panjang dan engkau wahai dewi embun. Biarlah angin pancaroba yang bertiup dari utara ini meniup apa yang seharusnya hilang, dan biarlah sang raja rantai mengikat apa yang seharusnya ditinggalkan angin pancaroba utara yang bertiup kencang.

Jika nanti angin pancaroba membawa sang kemarau panjang menghilang dari tanah kehidupan ini, biarlah sang hujan yang lebih sejuk memeluk erat engkau wahai embun, aku yakin sang hujan akan lebih harmonis jika bersanding dengan embun yang akan membantu satu sama lain menyegarkan benih-benih kehidupan kalian dimasa yang akan datang. Biarlah sang kemarau berkelana mencari tanah basah yang kekal siap menerima kehangatan sang kemarau panjang, yaitu tanah basah yang tak akan kering walaupun sang kemarau bersanding bersamanya didalam kekekalannya. Agar sang kemarau tidak lagi secara alamiah mengeringkan engkau wahai embun yang segar dan membawa kesegaran.

Engkau wahai embun aku berpesan, jagalah bulir-bulir mutiara mu. Pelihara benih-benih yang harus sebagai mana engkau pelihara di pagi hari, agar kekal lah engkau membawa kesejukan bagi semesta yang penuh kebahagiaan ini. Bawalah khas mu kemana setiap engkau pergi, khas yang aku tau hanya kau yang memilikinya, khas yang mana sang kemarau rasakan diawal pertemuan kita, hingga akhirnya sang kemarau hampir memadamkan hal yang sangat manis yang engkau miliki wahai dewi embun. Aku yakin perubahan zaman tak akan tega dan tak akan sanggup menggerus kesejukan yang engkau miliki.

Siapkan jemarimu mu untuk terus tak berhenti menghitung setiap detik hingga sang angin pancaroba selesai melakukan tugasnya.

-Aku sang kemarau, akan selalu merindukan sentuhan yang menyejukan khas mu wahai dewi embun.

Leave a Reply

Your email address will not be published.