Kalo boleh mengutip beberapa kata milik dua temanku yaitu Daus Gonia dan Yusuf Afandi, boleh sih aku sudah minta ijin dan sudah diijinkan juga, ini bagus soalnya.

Sejujurnya, saya rindu dedaunan. Dan akar yang menyerupai kaki tapi ternyata bukan.

Hampir setiap malam seperti ini, aku menyadari keberadaannya tidak jauh dari tempatku. Punggung dia beserta semua gerak-geriknya, bahkan aku hafal semua wangi parfum yang dia kenakan. Wanginya, buatku adalah sebuah ketenangan.

Entahlah, dari awal aku menyadari keberadaannya semua fokus dan pikiranku bermuara kepada dia, wanita ini. Wanita yang tiba-tiba saja merubah semuanya, dia selayaknya sebuah orbit pada tata suryaku. Tata suryaku yang sekarang, entah sebelumnya seperti apa. Aku bahkan lupa keberadaanku sebelum ada dia.

Sebelum ada dia, gelap adalah cahaya. Aku lebih nyaman saat temaram, karena bagiku cahaya itu membutakan. Sebelum dia datang, aku seperti sisa pohon yang ditebang bukan oleh pemiliknya, keangkuhanku hanya serupa tempat sembunyi.

Sejujurnya, aku rindu dedaunan. Apalagi saat mereka berjatuhan.

Tapi aku harus berpikir ribuan kali untuk mendekatinya, mengingat siapa aku dan siapa dirinya. tidak seperti pungguk merindukan datang bulan, melainkan lebih seperti siang dan malam, air dan api, daratan dan lautan. Sangat bhineka tunggal ika. Oh mungkin juga bukan seperti air dan api, tapi seperti tanah dan air, seperti itu sih indonesia. Aku cinta indonesia, tapi ya seperti itu. Kalimat barusan adalah sesederhananya bagaimana cinta tidak bisa memiliki. Aku cinta indonesia, untuk memeluknya saja tanganku harus selebar apa.
Tapi hati kecilku berbicara..

Iya berbicara, sayangnya dia seperti eksperimen pada sebuah laboratorium yang tidak lagi disubsidi, berhenti sampai di sana, tidak sempat dibuat untuk bisa mendengar.
“Aku harus memilikinya, Aku bisa gila tanpanya, Aku ada Untuknya, Dia ada untukku di depanku menyerupai manusia”

“oh tidak sepertinya aku sudah mulai gila”, “Oh tentu saja gila, kalo gula pasti sangat manis”

Setelah 99,5 kali aku berpikir, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menemuinya. Tapi tidak, mungkin hanya menyapanya karena aku menjadi sangat lemah saat di dekatnya. Jangankan mendekatinya, lebih dari itu menjauhinya saja aku tak mampu. Harus sedang-sedang saja, pada titik yang sebagaimana mestinya. Semua tentang dia, mauku akhirnya berupa sebuah ketidakmampuan. Dan ketidak mampuan adalah sesia-sianya kemauan.

Setiap hari aku hanya bisa memandangya dari kejauhan, aku merasa konyol. Mungkin ada saatnya aku akan berani mendekatinya, tapi kain kapan???

Tapi kapan? bahkan dengan mengabaikan satuan waktu, aku seolah-olah telah selamanya mengagumi dia. Dia sebuah ben tuk sederhana dari integral pangkat 12 tetapi indah. aduh itu gimana ya. Mungkin inilah takdirku, sebagai bentuk kelemahan yang hanya bisa mengaguminya dari kejauhan.

Kau tau? Pernah pada suatu ketika aku berpapasan dengannya, ketika itu tidak hujan. Kalo kamu perlu tau. Seperti yang aku duga, aku hanya bisa diam seolah tak mengenalnya karena lemahnya aku. Tapi entah kenap aku sangat sangat sangat bahagia karena kejadian itu.
Juga pernah pada suatu ketika, aku sangat ingat kejadiannya. Juga saat itu tidak hujan, ataupun gerimis. Ataupun ada zombie. Dia pulang entah dari mana, rambut panjangnya yang dia ikat seperti simpul-simpul di buku pramuka. Matahari terik ketika itu, tapi tenang ada AC, kalian jangan khawatir. Ketika itu, dia memakai tanktop warna hitam tua, ditutupin kaos putih robek-robek yang disengaja, dia tetap cantik bagiku, tapi isak tangisnya membuatku ikut bersedih. Menghampirinya, adalah sebuah hal yang aku rela tukar dengan apa saja. Bisa menenangkannya ketika itu, adalah todolist yang nyata. Untuk dia yang seperti itu, dia yang tidak pernah aku abaikan.

Tapi apa? mendekatinya bagaikan mitos, sesuatu yang hampa, kosong dan penuh kebohongan dan tidak bisa diisi ulang seperti pulsa. Samar-samar, aku mendengar percakapan dia di telpon, genggam, bukan di telepon umum. Karena sudah jarang.
“Ya udah, kalo kamu maunya seperti itu”

“Aku bisa apa selain bisa masak dan juga bisa menangin televisi 21 inch di panjat pinang acara 17an taun kemarin”

Dia, bicara pelan di telpon. ingin aku memeluknya dari belakang, dari depan, dari arah barat daya, dari timur laut, ataupun dari tenggara. Oh Tuhan. Panjat pinang? Acara 17an? sesaat setelah mendengar itu seolah petir menyambarku. Hatiku bergetar, semakin lemah tak berdaya, hanya ada satu kalimat yang terus bergejolak di dalam hatiku.

…. Dia tipeku

— Daus Gonia & Yusuf Afandi

ini sumbernya kalo mau baca lebih lanjut

Entah karena hanya kebetulan atau apapun, mereka seperti mewakiliku untuk menyusun barisan kata yang aku rasakan namun aku tidak kepikiran untuk menulis sebelumnya. Semuanya terasa sangat pahit, mungkin itu juga yang menjadi alasan aku lebih suka minum kopi hitam tanpa gula, walau pahit aku akan tetap menghabiskan gelas-gelasnya, engga gelas sih, aku sebagai kuda lumping kalo menghabiskan gelas-gelas.Jelasnya akan aku telan pahitnya, aku nikmati getirnya, aku rasakan asam dalam setiap tetesannya, tapi tolong diingat ini bukan iklan kopi, apalagi kopi anjis yang merupakan salah satu kedai kopi di daerah jl.Surya Sumantri kota Bandung.

Bagi seseorang yang merasa kondisinya terinterpretasikan dalam tulisan di atas, mari lanjutkan hidup.

Aku tak seperti perindu yang lain, aku tak akan mencarimu, karena engkau selalu aku temukan di dalam hati ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.